Senin, 28 Desember 2020

Ku pikir di tempat ini langit akan selalu berbintang

 

Ku pikir di tempat ini langit akan selalu berbintang karena memang itulah yang aku lihat selama ini. Malam ini langit terlihat gelap dan sendu, awan yang menjulang dan menyebar mungkin sedang menutupinya sempurna. Halah kenapa mesti lupa bahwa ini akhir desember, masa dimana puncak musim hujan melintasi jajaran khatulistiwa. Aneh memang, oktober november dan tiga perempat desember sudah hampir berakhir aku menunggu hujan setiap waktu, aku rindukan hujan tapi ia tak pernah datang. Kadang awan menggelayut dan menurunkan setetes dua tetes air lalu berlalu dan sirna ditiup angin. Jika hujan betul betul turun sempurna maka aku berjalan dibawahnya dan membuka tanganku lebar lebar menghela nafas panjang menghirup segala kedamaian, ketenangan dan kesejukan yang tercurah dengan rahmat Allah yang dibagikan oleh malaikat Mikail itu. Aku memang sangat cintanya pada hujan. Aku ingin berjalan di bawah hujan deras dan berhenti dan menangkapi butir butir rinai yang ada dalam jangkauanku. Aku ingin menyapa setiap tetes anak awan itu dan menyerap semua kesejukan yang ada padanya tak tersisa dari setiap kulitku yang basah.

Memang hujan membuatku damai. Banyak kenangan dalam hujan yang terpatri dalam memoriku, dari aku kecil sampai sekarang jenggot menyelimuti daguku. Hujan membuat semua itu menjadi lebih bermakna dan lebih kuat dipegang oleh sel sel syaraf di kepala ini. Tidak ada yang lebih aku senangi selain hujan, aku tergila-gila menyaksinya.

Dulu, aku duduk di kursi rotan di beranda rumah kami. Kain selimut yang berbentuk jaring kutangkupkan keseluruh tubuh, kudekapkan kedua ujung ujungnya bertemu tepat didadaku. Ibuku duduk disamping memegang beberapa kain sibuk melengkapi jahitannya. Sesekali ibu meminta tolong padaku untuk memasukkan benang kedalam jarum jahit. Aku hanya memandangi hujan yang masih lebat dihalaman rumah, daun daun rerumputan yang mengangguk angguk diterpa tetesan rinai hujan, daun pisang yang tak hentinya melambai lambai di tiup angin semilir yang membersamai curahan hujan, kadang angin itu berhempus tiba-tiba dan menghempaskan ribuan butir air keberbagai arah membasahi dinding-dinding kayu rumah-rumah di tempat ini. Apakah mereka sebenarnya sedang bercakap-cakap? Tapi suasana memang penuh suka, banyak makhluk Allah yang bersuka ria dibawah hujan, aku suka melihat mereka, kebahagiaan mereka kurasakan memenuhi cakrawala dan tersedia dalam jumlah yang sangat besar, bebas diambil dan dinikmati oleh siapa saja, tentu bagi semua yang mencintai hujan yang merupakan rahmat Allah yang luar biasa.

Hujan masih turun meski sudah tidak lagi lebat, sekarang selokan yang mengelilingi rumah kami penuh dengan air yang berwarna keruh, hujan tampaknya merata sampai pada hulu sungai di bukit seberang desa. Waktu hampir jam lima petang dan hari ini pun malam seakan datang lebih cepat dijemput oleh gunungan awan yang masih tetap bercokol di langit tempat ini. Aku masih asyik dengan pemandangan ini, sudah terasa dingin sekali dan aku memeluk selimutku lebih erat mencoba mengimpulkan sisa-sisa panas tubuh agar tidak menghilang keluar. Bapak keluar dan membawakan sebuah lampu minyak tanah yang ditutupi kaca. Kini cahanya telah mengalahkan sisa sisa cahaya matahari yang mulai menghilang ditutupi bukit yang mengelilingi tempat ini. Lampu kecil itu memendarkan cahaya yang sangat terbatas, ibuku segera mengakhiri jahitan dan melipat kain kain yang dari tadi diperbaikinya. Ibuku kini berdiri dan bergegas masuk sambil melihat kearahku dan berkata : “itu baju jangan lupa dibawa ke dalam nanti. Sekarang cepat sana ambil wudhu dan berangkat ke masjid”. Tanpa basa basi aku mengakhiri pertunjukan hujan sore ini. Kalbuku sudah penuh dengan keindahan, kesejukan hujan sudah kusimpan melimpah, memadai untuk mengisi seluruh sel dalam tubuh ini dengan ketentraman. Terimakasih hujan, terimakasih Allah, Alhamdulillahirabbil alamin.

Kini hujan juga mulai memperlihatkan dirinya di tanah yang langitnya selalu penuh bintang ini. Hanya kebahagiaan yang ada dalam jiwaku, bibir ini tak pernah behenti tersenyum dan bersyukur setiap kali hujan bertamu kapanpun ia mau. Aku ucapkan selamat datang wahai hujan wahai rahmat Allah, penuhilah tanah ini dengan cinta dan kemakmuran atas izin Allah azza wajalla.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanjung uban itu memang luar biasa

  Tanjung uban itu memang luar biasa panasnya. Masha Allah. Serasa matahari itu dekat sekali. Lingkungan ini pun tidak begitu banyak pohon, ...