Ku pikir di tempat ini langit akan selalu berbintang
karena memang itulah yang aku lihat selama ini. Malam ini langit terlihat gelap
dan sendu, awan yang menjulang dan menyebar mungkin sedang menutupinya
sempurna. Halah kenapa mesti lupa bahwa ini akhir desember, masa dimana puncak
musim hujan melintasi jajaran khatulistiwa. Aneh memang, oktober november dan
tiga perempat desember sudah hampir berakhir aku menunggu hujan setiap waktu,
aku rindukan hujan tapi ia tak pernah datang. Kadang awan menggelayut dan
menurunkan setetes dua tetes air lalu berlalu dan sirna ditiup angin. Jika
hujan betul betul turun sempurna maka aku berjalan dibawahnya dan membuka
tanganku lebar lebar menghela nafas panjang menghirup segala kedamaian,
ketenangan dan kesejukan yang tercurah dengan rahmat Allah yang dibagikan oleh
malaikat Mikail itu. Aku memang sangat cintanya pada hujan. Aku ingin berjalan
di bawah hujan deras dan berhenti dan menangkapi butir butir rinai yang ada
dalam jangkauanku. Aku ingin menyapa setiap tetes anak awan itu dan menyerap
semua kesejukan yang ada padanya tak tersisa dari setiap kulitku yang basah.
Memang hujan membuatku damai. Banyak kenangan dalam hujan
yang terpatri dalam memoriku, dari aku kecil sampai sekarang jenggot
menyelimuti daguku. Hujan membuat semua itu menjadi lebih bermakna dan lebih
kuat dipegang oleh sel sel syaraf di kepala ini. Tidak ada yang lebih aku
senangi selain hujan, aku tergila-gila menyaksinya.
Dulu, aku duduk di kursi rotan di beranda rumah kami.
Kain selimut yang berbentuk jaring kutangkupkan keseluruh tubuh, kudekapkan
kedua ujung ujungnya bertemu tepat didadaku. Ibuku duduk disamping memegang
beberapa kain sibuk melengkapi jahitannya. Sesekali ibu meminta tolong padaku
untuk memasukkan benang kedalam jarum jahit. Aku hanya memandangi hujan yang
masih lebat dihalaman rumah, daun daun rerumputan yang mengangguk angguk
diterpa tetesan rinai hujan, daun pisang yang tak hentinya melambai lambai di
tiup angin semilir yang membersamai curahan hujan, kadang angin itu berhempus
tiba-tiba dan menghempaskan ribuan butir air keberbagai arah membasahi
dinding-dinding kayu rumah-rumah di tempat ini. Apakah mereka sebenarnya sedang
bercakap-cakap? Tapi suasana memang penuh suka, banyak makhluk Allah yang
bersuka ria dibawah hujan, aku suka melihat mereka, kebahagiaan mereka
kurasakan memenuhi cakrawala dan tersedia dalam jumlah yang sangat besar, bebas
diambil dan dinikmati oleh siapa saja, tentu bagi semua yang mencintai hujan
yang merupakan rahmat Allah yang luar biasa.
Hujan masih turun meski sudah tidak lagi lebat, sekarang
selokan yang mengelilingi rumah kami penuh dengan air yang berwarna keruh,
hujan tampaknya merata sampai pada hulu sungai di bukit seberang desa. Waktu
hampir jam lima petang dan hari ini pun malam seakan datang lebih cepat
dijemput oleh gunungan awan yang masih tetap bercokol di langit tempat ini. Aku
masih asyik dengan pemandangan ini, sudah terasa dingin sekali dan aku memeluk
selimutku lebih erat mencoba mengimpulkan sisa-sisa panas tubuh agar tidak
menghilang keluar. Bapak keluar dan membawakan sebuah lampu minyak tanah yang
ditutupi kaca. Kini cahanya telah mengalahkan sisa sisa cahaya matahari yang
mulai menghilang ditutupi bukit yang mengelilingi tempat ini. Lampu kecil itu
memendarkan cahaya yang sangat terbatas, ibuku segera mengakhiri jahitan dan
melipat kain kain yang dari tadi diperbaikinya. Ibuku kini berdiri dan bergegas
masuk sambil melihat kearahku dan berkata : “itu baju jangan lupa dibawa ke
dalam nanti. Sekarang cepat sana ambil wudhu dan berangkat ke masjid”. Tanpa
basa basi aku mengakhiri pertunjukan hujan sore ini. Kalbuku sudah penuh dengan
keindahan, kesejukan hujan sudah kusimpan melimpah, memadai untuk mengisi
seluruh sel dalam tubuh ini dengan ketentraman. Terimakasih hujan, terimakasih Allah,
Alhamdulillahirabbil alamin.
Kini hujan juga mulai memperlihatkan dirinya di tanah
yang langitnya selalu penuh bintang ini. Hanya kebahagiaan yang ada dalam
jiwaku, bibir ini tak pernah behenti tersenyum dan bersyukur setiap kali hujan
bertamu kapanpun ia mau. Aku ucapkan selamat datang wahai hujan wahai rahmat
Allah, penuhilah tanah ini dengan cinta dan kemakmuran atas izin Allah azza
wajalla.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar