Tanjung uban itu memang luar biasa panasnya. Masha Allah.
Serasa matahari itu dekat sekali. Lingkungan ini pun tidak begitu banyak pohon,
jadilah cahaya mataharinya menyorot tanpa banyak halangan. Membakar sana sini.
Aku tak kuasa berlama-lama diluar. Ingin terus mengurung diri di dlam ruangan,
tapi di dalam ruangan ini tidakpun ada ac, hanya kipas angin yang bergerak
berputar kesana kemari lelah melerai panas yang terus menyerang setiap badan
yang ada di ruangan ini.
Kebayangkan teriknya (pict ni di depan lagoi J )
Aku tak pernah merasakan panas matahari sebegitu menyegat
seperti di tanjung uban ini. Semarang memang panas, surabaya memang panas,
namun sepertinya tidak menyamai apa yang ada disini. Kulit-kulit menghitam
terpendar setiap saat, tidak hanya setiap berada diluar ruangan tapi di dalam
sini pun pantulan itu terasa memanggang. Baju tidak ada enaknya jika dipakai
dua kali, penuh keringat, basah dan bau. Entah sudah berapa semprotan parfum
yang aku pakai setiap pagi, tapi baunya tetap saja aku tak suka.
Inilah tanah yang penuh dengan kejutan. Tanah yang
membuatku takjub akan keindahannya meski begitu panas hawa nya. Pagi-pagi aku
menggigil kedinginan, kontras sesaat sebelum aku terlelap dengan balutan
keringat akan panasnya malam. Pagi memang begitu dingin disini, kemudian
beranjak membiru langit pada waktu dhuha yang menampakkan perkasanya matahari
yang memancarkan bertriliun triliun foton ke permuakaan bumi. Meski hanya
gelombang tapi energinya diberikan Allah kekuatan untuk membakar dan memberi energi
kehidupan pada makhluk bumi.
Uban oh uban, sampai kapan aku akan disini? Entahlah.
Hidupku penuh kejutan, Alhamdulillah. Semoga yang akan datang tetap merupakan
kejutan kebaikan dari Allah jalla jalalun. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar